Halo Sobat Kampus dan para pejuang masa depan! Jika kita bicara soal orang terkaya di Indonesia atau investor sukses, mungkin yang terlintas di benak kalian adalah lulusan Ekonomi, Manajemen Bisnis, atau alumni kampus Ivy League di luar negeri, kan?
Eits, buang jauh-jauh stigma itu. Ada satu sosok legendaris di pasar modal Indonesia yang membuktikan bahwa jurusan kuliah tidak selalu mendikte nasibmu di masa depan. Beliau adalah Lo Kheng Hong (LKH). Kerap dijuluki sebagai "Warren Buffett-nya Indonesia", Pak Lo justru memiliki latar belakang pendidikan yang unik dan jauh dari angka-angka finansial.
Artikel ini tidak akan membahas teknis saham yang njelimet, tapi kita akan membedah riwayat pendidikan dan semangat belajar seorang Lo Kheng Hong. Bagaimana seorang mahasiswa Sastra yang dulunya hidup pas-pasan bisa memiliki aset triliunan Rupiah? Mari kita simak!
Sebelum masuk ke masa-masa sekolahnya yang penuh perjuangan, yuk kenalan dulu dengan data diri singkat beliau agar kita semakin paham konteksnya.
| Nama Lengkap | Lo Kheng Hong |
|---|---|
| Tanggal Lahir | 20 Februari 1959 |
| Julukan | Warren Buffett Indonesia |
| Pendidikan Tinggi | S1 Sastra Inggris, Universitas Nasional (UNAS) |
| Pekerjaan Awal | Pegawai Tata Usaha (Clerk) di Bank |
| Filosofi | Value Investing (Membeli Mercy harga Bajaj) |
Kisah pendidikan Lo Kheng Hong adalah definisi nyata dari peribahasa "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian". Beliau tidak lahir dari keluarga kaya raya. Masa kecilnya dihabiskan di rumah petak yang sempit. Namun, keterbatasan ekonomi tidak mematikan semangatnya untuk menempuh pendidikan tinggi.
Banyak mahasiswa yang mungkin merasa "salah jurusan" dan akhirnya malas belajar. Tapi lihatlah Lo Kheng Hong. Ia memilih masuk ke Universitas Nasional (UNAS), salah satu kampus swasta tertua di Jakarta, dan mengambil jurusan Sastra Inggris.
Pilihan ini diambil bukan karena ia ingin jadi penyair, melainkan karena pertimbangan biaya dan waktu. Saat itu, LKH muda harus bekerja sebagai pegawai tata usaha di sebuah bank (Overseas Express Bank) untuk membiayai hidup dan kuliahnya. Ia mengambil kuliah malam sepulang kerja.
Bayangkan, Sobat! Siangnya bekerja mengurus administrasi, malamnya belajar literatur Inggris. Rasa lelah tentu ada, tapi disiplin inilah yang menjadi pondasi mental baja seorang investor di masa depan. LKH lulus dari UNAS pada tahun 1979.
Gelar Sarjana Sastra Inggris sudah di tangan, tapi Lo Kheng Hong tidak berhenti belajar. Inilah poin edukasi terpenting yang bisa kita ambil. Ia menyadari bahwa kekayaan tidak datang dari gaji sebagai pegawai bank yang saat itu pas-pasan.
Di sinilah konsep otodidak bermain. LKH mulai "kuliah lagi" secara mandiri di perpustakaan kehidupan. Ia mulai membaca buku-buku tentang investasi, khususnya karya-karya Warren Buffett. Jika mahasiswa membaca buku diktat untuk ujian, LKH membaca Laporan Keuangan (Annual Report) perusahaan untuk mengubah nasib.
Pak Lo pernah berkata dalam berbagai seminar kampus, bahwa pekerjaannya setiap hari hanya "Duduk, Diam, Membaca". Ia membaca ribuan halaman laporan keuangan emiten. Kebiasaan literasi yang kuat—mungkin sisa-sisa dari kuliah Sastranya yang gemar membaca teks tebal—menjadi senjata utamanya.
Ia membuktikan bahwa literasi finansial bisa dipelajari oleh siapa saja, tidak peduli apakah ijazahmu Sastra, Teknik, atau Pertanian.
Dari perjalanan Lo Kheng Hong, ada beberapa kurikulum kehidupan yang bisa diambil oleh mahasiswa zaman sekarang:
Kisah Lo Kheng Hong mengajarkan kita bahwa sekolah formal adalah pintu gerbang, namun kemauan belajar mandirilah yang mengantarkan kita ke puncak kesuksesan. Bagi Sobat Kampus yang saat ini mungkin sedang berjuang membagi waktu antara kuliah dan kerja part-time, atau merasa salah jurusan, ingatlah sosok Pak Lo.
Beliau memulai dari pegawai tata usaha bank, kuliah sastra malam hari, dan kini menjadi salah satu triliuner yang paling disegani di Indonesia. Jika Pak Lo bisa, kalian juga punya kesempatan yang sama. Kuncinya? Rajin membaca, sabar, dan terus belajar!