Halo sobat pembaca! Belakangan ini, linimasa media sosial kita, mulai dari TikTok, Instagram, hingga YouTube, sering banget dihiasi oleh potongan video ceramah dari seorang perempuan muda yang pembawaannya adem banget. Siapa lagi kalau bukan Ning Umi Laila. Suaranya yang merdu saat melantunkan sholawat dan gaya ceramahnya yang "relate" banget sama anak muda bikin beliau cepat naik daun.
Tapi, di balik viralnya beliau, banyak yang belum tahu detail mendalam soal latar belakang akademisnya. Padahal, sebagai pencari ilmu, biodata Ning Umi Laila dari sisi pendidikan itu menarik banget buat diulik, lho. Beliau adalah bukti nyata kalau jadi pendakwah itu nggak cuma modal bisa ngomong, tapi juga butuh fondasi pendidikan yang kuat. Yuk, kita bedah profil beliau sambil santai!
Siapa Sebenarnya Ning Umi Laila?
Sebelum kita ngobrolin soal sekolah dan kuliahnya, kita kenalan dulu secara personal. Ning Umi Laila memiliki nama lengkap Ummi Lailatul Rahmah Hadi. Lahir di Surabaya pada tanggal 8 Agustus 2000, beliau kini tumbuh menjadi sosok idola baru bagi para remaja muslimah.
Darah pendakwah memang sudah mengalir deras di tubuhnya. Beliau adalah putri dari almarhum KH. Edy Rahmatullah, atau yang akrab disapa Kyai Granat, dan Nyai Sulastri. Kyai Granat sendiri dikenal sebagai ulama kharismatik dari Surabaya yang juga pengurus Nahdlatul Ulama (NU). Jadi, nggak heran kalau kemampuan public speaking dan ilmu agamanya Ning Umi Laila ini "daging" banget, karena memang ditempa di lingkungan keluarga yang sangat religius dan intelek.
Tabel Biodata Ning Umi Laila Lengkap
Supaya kamu lebih mudah menyimak data dirinya, berikut rangkuman biodata beliau dalam tabel ringkas:
| Kategori | Keterangan |
|---|---|
| Nama Lengkap | Ummi Lailatul Rahmah Hadi |
| Nama Panggung | Ning Umi Laila |
| Tempat, Tanggal Lahir | Surabaya, 8 Agustus 2000 |
| Orang Tua | KH. Edy Rahmatullah (Kyai Granat) & Nyai Sulastri |
| Pendidikan Tinggi | UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) |
| Fakultas/Jurusan | Fakultas Dakwah dan Komunikasi / Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) |
| Profesi | Pendakwah, Munsyidah, Mahasiswa |
| Akun Instagram | @lailatun_rhmah_hadi08 |
Riwayat Pendidikan: Kombinasi Pesantren dan Akademisi Kampus
Nah, ini bagian yang paling menarik dari biodata Ning Umi Laila. Banyak yang mengira kalau anak Kyai itu pasti hanya belajar di pondok pesantren saja tanpa menempuh pendidikan formal umum. Padahal, Ning Umi Laila membuktikan bahwa pendidikan pesantren dan pendidikan formal universitas bisa berjalan beriringan.
Menjadi Santri dan Penjaga Turats
Sejak kecil, Ning Umi Laila sudah digembleng dengan pendidikan agama yang ketat. Selain belajar langsung dari sang Ayah, beliau juga menempuh pendidikan di beberapa pondok pesantren. Salah satu pondok pesantren yang menjadi tempat beliau menimba ilmu adalah Pondok Pesantren Mambaul Ihsan, Sedayu, Gresik, serta Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Simo Surabaya.
Di fase inilah beliau memperdalam ilmu alat (Nahwu-Shorof), fiqih, dan tentunya seni dakwah. Mental beliau sebagai pendakwah ditempa bukan secara instan, melainkan lewat proses ngaji yang panjang dan tekun.
Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA)
Setelah lulus dari jenjang pendidikan menengah, Ning Umi Laila tidak berhenti belajar. Beliau melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi negeri. Pilihan kampusnya jatuh pada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.
Yang menarik adalah pemilihan jurusannya. Beliau mengambil Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) di Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Pilihan ini sangat strategis dan relevan dengan kariernya saat ini. Kenapa? Karena di jurusan KPI, mahasiswa tidak hanya belajar soal dalil agama, tapi juga:
- Teknik Public Speaking yang profesional.
- Psikologi massa (bagaimana memahami audiens).
- Pemanfaatan media baru (New Media) untuk dakwah.
- Jurnalistik dan penyiaran.
Ilmu yang beliau dapatkan di bangku kuliah ini jelas teraplikasikan dengan baik. Lihat saja bagaimana beliau mengemas konten dakwahnya. Beliau paham betul bagaimana berkomunikasi dengan generasi Z dan milenial. Retorika yang beliau gunakan santai, kadang diselingi bahasa Jawa timuran yang medok, humoris, namun isinya tetap "kena". Ini adalah bukti bahwa beliau adalah mahasiswa yang sukses mempraktikkan ilmu kuliahnya di dunia nyata.
Tantangan Kuliah Sambil Dakwah
Menjalani peran ganda sebagai mahasiswa aktif dan pendakwah viral tentu bukan hal mudah. Di satu sisi, ada tugas makalah, presentasi, dan ujian semester yang harus dikejar. Di sisi lain, jadwal undangan pengajian dari satu kota ke kota lain juga padat.
Namun, dalam beberapa wawancara, Ning Umi Laila sering menyampaikan bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas. Baginya, kuliah adalah amanah dan cara untuk memperluas wawasan agar materi dakwah yang disampaikan tidak kaku dan bisa menjawab tantangan zaman.
Gaya Dakwah dan Relevansinya dengan Anak Muda
Membahas biodata Ning Umi Laila rasanya kurang lengkap kalau tidak membahas gaya dakwahnya yang unik. Sebagai seorang Munsyidah (penlantun syair Islami), beliau punya senjata utama: suara yang merdu. Beliau sering menyisipkan lantunan sholawat atau qasidah di tengah ceramahnya.
Mengapa Beliau Begitu Disukai?
Dari kacamata edukasi, metode yang digunakan Ning Umi Laila disebut sebagai Edutainment (Education and Entertainment). Beliau mendidik umat (edukasi) dengan cara yang menghibur (entertainment). Beliau tidak memposisikan diri sebagai guru yang menggurui, melainkan sebagai teman yang mengajak kepada kebaikan. Hal-hal yang sering beliau bahas pun sangat relevan dengan kehidupan remaja, seperti:
- Masalah percintaan dalam Islam (jodoh dan pacaran).
- Berbakti kepada orang tua (Birrul Walidain).
- Insecure dan kesehatan mental dalam pandangan Islam.
- Adab pergaulan sehari-hari.
Penerus Perjuangan Sang Ayah
Sepeninggal Ayahandanya, KH. Edy Rahmatullah, Ning Umi Laila kini memegang tongkat estafet dakwah keluarga. Bersama ibundanya, beliau juga turut mengelola Pondok Pesantren Rahmatullah di Surabaya. Ini menunjukkan sisi kematangan beliau; di usia yang masih awal 20-an, beliau sudah memiliki tanggung jawab manajerial dalam pendidikan Islam.
Kisah hidup beliau mengajarkan kita bahwa kehilangan sosok ayah bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pecutan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bermanfaat.
Kesimpulan
Dari ulasan lengkap mengenai biodata Ning Umi Laila di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa beliau adalah paket lengkap figur inspiratif masa kini. Beliau menyeimbangkan antara ilmu agama (pesantren) dan ilmu komunikasi modern (universitas).
Buat kamu yang sekarang sedang menempuh pendidikan, baik di sekolah umum maupun pesantren, sosok Ning Umi Laila bisa jadi contoh bahwa kita bisa berprestasi di bidang apapun tanpa meninggalkan identitas kita sebagai seorang muslim. Pendidikan adalah kunci untuk membuka pintu dakwah yang lebih luas.
Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa memotivasi kamu untuk terus semangat belajar ya!